Minggu, 05 Juli 2009

berjalan diatas

Sore hari kami berada disatu tempat yang hilang oleh tangan korporasi (lapindo), sejauh mata memandang terpapar sebuah kehancuran hebat yang mustahil untuk dikembalikan seperti sedia kala. Dari kejauhan tampak terlihat juga pusat kehancuran masih mengeluarkan material panas yang siap untuk merabah dan melenyapkan ekonomi, sosial, budaya, dan sejarah masyarakat. Setidaknya 14rb keluarga kehilangan rumah, 75rb jiwa terusir dari desanya sendiri, 3 desa akan tenggelam, 3 desa tidak layak huni, 12 desa tercemar udara dan air beracun. Dan yang pasti pusat kehancuran akan terus mengeluarkan amunisi-amunisinya untuk menghancurkan masyarakat, Padahal hanya satu sumur yang mengeluarkan material tersebut. banyangkan dua atau lebih.

Alat-alat berat terus bekerja siang dan malam untuk meninggikan batas kehancuran, dan juga membuat kolam kehancuran baru Tanpa memperdulikan hijaunya persawahan warga, sekolah, rumah, tempat bermain anak, dll. Kejam dan tidak berperikemanusiaan. Ungkapan itu sangat cocok untuk menyebut seseorang ataupun sekelompok orang yang telah melakukan hal tersebut diatas. Si lapindo selalu berlindung dibalik negara yang sangat setia melindungi korporasi tersebut, Walaupun 42 ahli geologi dunia telah sepakat bahwa kejadian lumpur lapindo ini adalah karena kesalahan pengeboran (human error).

Terjadi konspirasi besar antara negara dan korporasi tersebut dalam hal ini, karena si bakrie (pemilik lapindo) yang membiayai kampanye president beye pada periode 2004-2009. Sekarang 'si' president beye maju lagi sebagai capres, dan anehnya bakrie tetap mendekat pada capres yang ini (beye), padahal seharusnya si bakrie mendekat kepada capres dari partainya. Elektabilitas beye yang selalu unggul dari capres lainlah yang membuat bakrie selalu mendekat ke beye. Karena si bakrie ingin membuat si beye selalu berhutang budi padanya, dan keuntungan buat bakrie adalah tidak memenuhi kewajibannya ke korban. Masyarakat yang rumah dan masa depannya sudah tenggelam hanya dianggap sebagai mitra jual beli oleh mereka (negara dan korporasi). Tanpa memperdulikan hak warga seperti pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dll.

Wilayah Porong Sidoarjo adalah wilayah yang tercatat sebagai salah satu wilayah di sebuah negara. Tapi negara dan kewajibannya kepada masyarakat korban tidak tampak disana, padahal warga porong selalu memenuhi kewajiban mereka kepada negara. Sungguh ironis, dalam situasi seperti ini beye selalu mengatakan dalam bebagai kesempatan ataupun kampanyenya bahwa negara ini dalam keadaan baik-baik saja. Sungguh sebuah kebohongan besar jika seorang president yang sangat tahu tentang keadaan negaranya yang sesungguhnya, tapi tidak mau mengakuinya didepan masyarakat yang telah memberi beye, anak, dan keluarganya makan, setidaknya dalam lima tahun terakhir.

Seakan kami tak percaya bahwa 8-10 meter ke bawah dari tempat kami berdiri, dulunya adalah desa yang penuh dengan rumah, sawah, sekolah, tempat ibadah,dan kebahagiaan warganya. Matahari tampak mulai mengurangi cahayanya, dan kamipun bergegas meninggalkan tempat bersejarah yang dulunya ditinggali puluhan ribu jiwa dengan kebahagiaan yang tidak korban miliki sekarang di pengungsian ataupun di rumah kontrakan. Lumpur lapindo adalah salah salah satu dari banyak bentuk kejahatan korporasi yang lagi-lagi masyarakat stempat yang jadi korban...